Laman

Minggu, 21 Maret 2010

Story ** AJISAKA**
CERITA I :
AJISAKA
Dikisahkan, pada sekitar abad ke-7 Masehi, daerah Grobogan termasuk dalam wilayah Kerajaan Medang Kamolan yang diperintah oleh Dinasti Sanjaya/Syailendra. Salah seorang raja dari dinasti ini adalah Dewata Cengkar, seorang yang konon amat gemar makan daging manusia. Karena kesukaan raja yang aneh tersebut, membuat rakyat merasa ketakutan. Mereka tidak ingin menjadi santapan sang raja yang haus darah itu. Berbagai cara dilakukan untuk melawan sang raja, tetapi semuanya sia-sia saja. Tak ada yang bisa mengalahkan kesaktian sang raja.

Beberapa waktu kemudian, muncullah Ajisaka, seorang pengembara, yang merasa prihatin dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat. Ajisaka pun kemudian berusaha untuk menghentikan kebiasaan sang raja. Dengan disaksikan oleh ribuan pasang mata, Ajisaka pun menantang adu kesaktian dengan sang raja. Banyak orang yang menyangsikan kemampuan Ajisaka, mengingat tubuhnya yang kecil. Namun apa pun, masyarakat tetap menaruh harapan kepada Ajisaka.

Sang raja yang menerima tantangan Ajisaka hanya terbahak-bahak. Raja pun menawarkan, kalau seandainya Ajisaka mampu mengalahkannya, maka Ajisaka berhak memperoleh hadiah berupa separuh wilayah kerajaan. Sebaliknya, jika Ajisaka kalah, maka raja akan memakan tubuh Ajisaka.

Ajisaka pun menyanggupi semua tawaran sang raja. Adapun permintaan terakhir Ajisaka kepada sang raja adalah, jika dia kalah dan tubuhnya dimakan oleh sang raja, Ajisaka memohon agar tulang-tulangnya nanti ditanam dalam tanah seukuran lebar ikat kepalanya.

Tentu saja sang raja segera mengiyakan dan sama sekali tidak menduga bahwa ikat kepala Ajisaka itu adalah ikat kepala yang mengandung kesaktian. Ajisaka segera melepas ikat kepalanya dan kemudian menggelarnya di atas tanah. Ajaib, ikat kepala itu berubah menjadi melebar. Raja Dewata Cengkar menggeser tempat berdirinya. Hal itu berlangsung terus seiring dengan makin mebelarnya ikat kepala Ajisaka, sampai akhirnya Dewata Cengkar tercebur di Laut Selatan. Namun Dewata Cengkar tidak mati, sebaliknya, tubuhnya menjelma menjadi bajul (buaya) putih. Sepeninggal Dewata Cengkar, rakyat kemudian menobatkan Ajisaka sebagai raja di Medang Kamolan.

Pada saat Ajisaka memerintah Medang Kamolan, muncullah seekor naga yang mengaku bernama Jaka Linglung. Menurut pengakuannya, dia adalah anak Ajisaka dan saat itu sedang mencari ayahnya.

Melihat wujudnya, Ajisaka menolak untuk mengakuinya sebagai anak. Ajisaka pun berusaha menyingkirkan sang naga, tetapi dengan cara yang amat halus. Kepada sang naga, Ajisaka mengatakan akan mengakuinya sebagai anak, jika naga itu berhasil membunuh buaya putih jelmaan Dewata Cengkar di Laut Selatan.

Terdorong keinginan untuk diakui sebagai anak, Jaka Linglung pun menyanggupi permintaan Ajisaka untuk membunuh Dewata Cengkar. Jaka Linglung pun segera berangkat. Oleh Ajisaka, Jaka Linglung tidak diperkenankan melalui jalan darat agar tidak mengganggu ketenteraman penduduk. Sebaliknya, Ajisaka mengharuskan Jaka Linglung agar berangkat ke Laut Selatan lewat dalam tanah.

Singkatnya, Jaka Linglung pun sampai di Laut Selatan dan berhasil membunuh Dewata Cengkar. Sebagaimana berangkatnya, kembalinya ke Medang Kamolan pun Jaka Linglung melalui dalam tanah. Dan sebagai bukti bahwa dia telah berhasil sampai di Laut Selatan serta membunuh Dewata Cengkar, Jaka Linglung tak lupa membawa seikat rumput grinting wulung dan air laut yang terasa asin.

Beberapa kali Jaka Linglung mencoba muncul ke permukaan, karena mengira telah sampai di tempat yang dituju. Kali pertama dia muncul di Desa Ngembak (kini wilayah Kecamatan Kota Purwodadi), kemudian di Jono (Kecamatan Tawangharjo), kemudian di Grabagan, Crewek, dan terakhir di Kuwu (ketiganya masuk Kecamatan Kradenan). Di Kuwu inilah, konon Jaka Linglung sempat melepas lelah. Dan tempat munculnya inilah yang kini diyakini menjadi asal muasal munculnya Bledhug Kuwu.

AJISAKA (cerita II)
HANACARAKA, salah satu bentuk perkembangan tulisan Jawa yang terdiri atas 20 huruf. Menurut para ahli epigrafi, tulisan Jawa berasal dari suatu bentuk tulisan sansekerta Dewanagari dari India Selatan, yang terdapat pada prasasti-prasasti dari zaman dinasti Palawa yang menguasai daerah pantai India Selatan pada abad ke-4.

Demikian, tulisan itu juga di sebut tulisan Palawa. Tetapi dalam jangka waktu berabad-abad tulisan itu telah mengalami perubahan. Prasasti Jawa tertua memang menggunakan tulisan Palawa ini, sehingga huruf yang digunakan para pujangga Jawa Timur dari abad ke-10 hingga 11 dalam ciptaan-ciptaan kakawihan mereka sudah mempunyai ciri khas Jawa.

Sepanjang sejarah kesusasteraan Jawa yang panjang itu, orang Jawa telah mengenal berbagai tulisan asli. Ada suatu legenda mengenai asal mula penduduk Jawa yang tertua, dan mengenai masuknya kebudayaan Jawa di pulau Jawa.

Hal itu sekaligus juga menerangkan bahwa penggunaan tulisan Jawa merupakan unsur penting dari kebudayaan itu.Legenda tersebut menceritakan kisah Pangeran Ajisaka yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dari Mekah yang berkelana melalui berbagai negara untuk membawa peradaban kepada umat manusia. Melalui Srilanka, Pantai India Selatan, Sokadana (kemungkinan yang dimaksudkan adalah pulau Sumatera), akhirnya Pangeran Ajisaka tiba di Jawa, yang pada waktu itu merupakan tempat tinggal para raksasa dengan rajanya yang bernama Dewata Cengker.

Dalam perjalanan menjelajahi Nusa Jawa, Pangeran Ajisaka menemukan dua tubuh raksasa yang telah mati. Di tangan kedua raksasa tergenggam masing-masing sehelai daun. Di atas kedua daun tersebut terdapat masing-masing tulisan purwa (kuno) dan tulisan Thai.

Oleh Pangeran Ajisaka kedua tulisan tersebut disatukan, dan dengan demikian ia menciptakan abjad Jawa yang terdiri atas 20 huruf, yang jika dirangkai membentuk suatu kalimat yang berbunyi: ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga. Arti kalimat tersebut adalah, ”Ada dua orang utusan yang saling bertengkar, keduanya sama kuat dan karena itu kedua-duanya mati”.

Legenda itu antara lain ditulis dalam sebuah buku Jawa yang berisikan sejarah mitologi Pulau Jawa hingga berdirinya Kerajaan Majapahit, kemudian harus mengalami perubahan huruf Jawa yang diajarkan di sekolah di Jawa Tengah dan Jawa Timur sekarang ini adalah yang dipakai dalam karya-karya kesusastraan zaman Mataram dari Abad ke-18 dan 19.

Huruf Jawa Mataram ini agaknya menjadi mantap setelah diciptakan mesin cetak dengan huruf Jawa yang dipakai oleh para penerbit Belanda, awal abad ke-19, dan terbitnya surat kabar berbahasa Jawa yang pertama, yaitu Armartani, 1878.Ada juga buku kesusastraan Jawa yang ditulis dengan tulisan pegon atau gundhil, yaitu tulisan Arab yang disesuaikan dengan keperluan bahasa Jawa. Penggunaan huruf ini terutama untuk kesusastraan Jawa yang bersifat keagamaan Islam, dan tidak pernah digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Hanacaraka tidak hanya dikenal oleh orang Jawa, melainkan juga oleh orang Sunda dan Bali, sebagai dampak pengaruh kekuasaan Kerajaan Jawa pada masa lampau. Dari sumber tertulis dari naskah-naskah Sunda lama, disebutkan bahwa Orang Sunda juga semula mempunyai huruf Sunda.

Namun dalam perkembangan selanjutnya, naskah-naskah Sunda tidak lagi ditulis dengan huruf Sunda melainkan dengan huruf Pegon atau huruf Jawa..

AJISAKA (III)


Karya klasik berbentuk puisi tembang macapat, dan berbahasa Jawa Baru. Isi teks tentang cerita mitos yang dimulai dengan kedatangan Aji Saka dari Arab ( bumi Majeti )ke Tanah Jawa atau Medhang Kamulan. Diceritakan pula tentang kematian Prabu Dewatacengkar oleh Aji Saka yang kemudian menggantikannya sebagai raja di Medhang Kamulan dengan gelar Prabu Jaka. Cerita ini diakhiri dengan peperangan antara para Adipati Brang Wetan (pesisir timur) melawan Prabu Banjaransari di Kerajaan Galuh.Aji Saka dalam perjalanannya ke Medhang Kamulan singgah di rumah seorang janda bernama Sengkeran. Ditempat inilah banyak orang yang berguru kepada Aji Saka. Raja Medhang Kamulan, Prabu Dewatacengkar, senang sekali melihat banyak orang ditempat tersebut kesukaannya memakan daging manusia. Oleh karena itu orang-orang menjadi takut.Aji Saka menawarkan dirinya lewat Patih Trenggana agar dihadapkan sebagai santapannya. Ia mengajukan persyaratan meminta tanah seluas ikat kepala yang dimilikinya untuk dibentangkan di tanah tersebut.

Raja Dewatacengkar menyanggupinya sehingga ikat kepala yang dibentangkan tadi memenuhi wilayah Medhang Kamulan. Dewatacengkar terdesak dan akhirnya sampaidi pantai selatan hingga tercebur dalam samudera dan berubah wujud menjadi buaya putih. Selanjutnya Aji Saka kembali ke Medhang Kamulan dan menggantikan kedudukannya sebagai raja dengan gelar prabu Jaka atau Prabu Anom Aji Saka. Sepeninggal Dewatacengkar kerajaan Medhang Kamulan menjadi aman tenteram dan damai kekuasaan Aji Saka. Ia dapat membuat manusia dengan tanah dan menciptakan aksara Jawa yang disebut Dhentawyanjana. Diceritakan pula mengenai naga Nginglung yang mengaku dirinya sebagai putra prabu Jaka. Ia disuruh untuk membunuh buaya putih di samudera yang merupakan penjelmaan Dewatacengkar. Naga tersebut dapat membunuh buaya putih sehingga diakui sebagai putranya dan diberi nama Tunggul Wulung.

Raden Daniswara di Panungkulan bermaksud ingin merebut Kerajaan Medhang. Ia disarankan oleh Hyang Sendhula agar meminta bantuan kepada ratu Kidul yang bernama Ratu Angin-Angin. Ia kemudian dapat menjadi raja di tanah Jawa dengan sebutan Raja Daniswara atau Srimapunggung. Ki Jugulmudha dijadikan patih dengan gelar Adipati Jugulmudha. Langkah selanjutnya adalah ingin menaklukan pesisir mencanegara. Setelah selesai tugasnya ia kembali ke Panungkulan dan selanjutnya berniat menaklukan Medhang. Akhirnya Aji Saka moksa bersama dengan kerajaannya sedangkan Medhang dibawah kekuasaan Srimapunggung. Setelah Srimapunggung moksa kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sri Kandhihuwan. Setelah Sri Kandhihuwan moksa kemudian digantikan oleh prabu Kelapagadhing. Selanjutnya kekuasaan secara berturut-turut digantikan oleh : (1) Prabu Andhong, (2) Sri Andhongwilis, (3) Prabu Banakeling, (4) Sri Banagaluh, (5) Sri Awulangit, (6) Ratu Tunggul, (7) Selaraja, (8) Mundhingwangi, (9) Mundhigsari, (10) Jajalsengara, (11) Gilingwesi, (12) Sri Prawatasari, (13) Wanasantun, (14) Sanasewu, (15) Raja Tanduran, (16) Rama Jayarata, (17) Raja Ketangga, (18) Raja Umbulsantuin, (19) Raja Padhangling, (20) Ratu Prambanan, (21) Resi Getayu, (22) Lembu Amiluhur, (23) Raden Laleyan, dan (24) Raden Banjaransari). Pusat kerajaan di Medhang Pangremesan atau Jenggala.

Pada saat pemerintahan Raden Banjaransari, ia mendapatkan wangsit dari dewa Sang Hyang Narada agar meninggalkan kerajaan untuk pergi ke arah barat yang akhirnya sampai di Gua Terusan untuk bertapa. Ditempat inilah ia dapat bertemu dengan kakeknya, Sang Hyang Sindula, yang akhirnya dapat menjadi raja di Kerajaan Galuh. Disebutkan pula mengenai peperangan antara para Adipati Brang Wetan melawan Prabu Banjarsari di Kerajaan Galuh.

Cerita Ajisaka tersebut diatas ada yang mengartikan perlambang atau bermakna sebagai berikut :

1. Ajisaka

Aji = Raja ( pegangan raja )

Saka = Pilar

2. Majeti

Ma = Diterima ( keterima )

Jet = Grenjet ( bijaksana )

Ti = Pangesti ( doa khusuk )

Artinya : Doa orang yang bijak, yang melakukan dengan khusuk akan diterima.

3. Medang Kamolan

Kamolan = Mula = tempat asal muasal kehidupan

Beberapa resensi tentang Ajisaka terdapat pada serat Jatiswara dan Serat Centhini yang memuat sebuah episode mengenai nama Ajisaka ( Raja Jawa Pertama ) pada abad ke. 17.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar